klikwartamedia.com – Panggung politik Jawa Timur kini diwarnai kehadiran sosok muda dari kalangan pesantren yang tengah mencuri perhatian. Di usia 37 tahun, Ahmad Jazuli resmi memegang tongkat komando sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Jawa Timur. Prosesi pelantikan dirinya berlangsung khidmat di DPP Perindo, Jakarta, pada 7 Februari 2026 lalu.
Penunjukan pria yang akrab disapa Gus Ahmad Jazuli ini dinilai sebagai langkah fenomenal. Memiliki rekam jejak sebagai santri, aktivis Nahdlatul Ulama (NU), hingga penggerak aksi mahasiswa, karier politiknya melesat tajam di provinsi yang sering dijuluki sebagai "medan tempur" politik nasional.
Dalam sebuah bincang-bincang santai bersama jurnalis senior, Gus Ahmad Jazuli membagikan kisah perjalanannya. Ia meniti kedisiplinan di pesantren dan mengasah kematangan berorganisasi di NU, mulai dari level desa melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) hingga menembus level nasional di Jakarta. Saat mengenyam bangku kuliah di Surabaya, ia pun tak asing dengan dinamika gerakan mahasiswa dan aksi-aksi turun ke jalan.
“Latar belakang saya memang dari pesantren, organisasi NU, dan aktivis pergerakan. Dari situ saya merasa harus ikut berperan dalam politik untuk mengawal aspirasi masyarakat kecil,” ungkapnya.
Sebelum berlabuh di Perindo, sosoknya sempat tercatat sebagai calon legislatif PKB pada Pemilu 2019 untuk wilayah Malang Raya, serta pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPW PPP Jawa Timur. Namun, pasca-Pilpres 2024, ia memutuskan mundur dari PPP untuk fokus pada penguatan ekonomi kerakyatan, yang justru menjadi pintu pembuka karier politik barunya.
Kedekatannya dengan elite Partai Perindo bermula dari komunikasi intens dengan sejumlah tokoh nasional saat ia terlibat dalam tim pemenangan Pilpres 2024. Puncaknya, ia diundang ke Jakarta untuk berdiskusi langsung dengan Ketua Majelis Persatuan Partai (MPP) Perindo, Hary Tanoesoedibjo. Menariknya, dialog tersebut tidak melulu soal taktik politik, melainkan substansi kebangsaan.
“Pak Hary Tanoe lebih banyak bicara soal kebangsaan dan moderasi. Dari situ mungkin ada kecocokan dengan latar belakang saya sebagai santri dan aktivis,” kenangnya.
Tak lama setelah pertemuan itu, Gus Ahmad Jazuli resmi menerima SK definitif sebagai Ketua DPW Perindo Jatim. Meski mengaku masih harus banyak belajar di level struktural, ia optimistis mampu menggerakkan roda partai di tengah persaingan ketat Jawa Timur yang merupakan basis massa partai-partai besar.
Langkah awal yang ia tempuh adalah melakukan penataan organisasi secara menyeluruh serta memetakan kekuatan politik di kabupaten/kota.
“Kami melakukan klasifikasi wilayah zona hijau, kuning, dan merah agar lebih mudah menyusun strategi politik,” jelas Jazuli.
Terkait target Pemilu 2029, ia memasang target realistis namun penuh optimisme. Ia membidik perolehan kursi di seluruh tingkatan parlemen. Bahkan, ia yakin Perindo Jatim bisa menyumbang tiga hingga empat kursi DPR RI, terutama jika ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen ditiadakan.
Di bawah kepemimpinannya, Perindo Jatim berkomitmen mengusung ideologi ekonomi kerakyatan dengan menyasar pemberdayaan UMKM, petani, nelayan, hingga pedagang kecil di tengah ancaman tekanan ekonomi dan maraknya pinjaman daring (online).
“Kami ingin Perindo benar-benar menjadi jembatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan UMKM dan ekonomi rakyat,” tegasnya.
Sebagai representasi santri, Gus Ahmad Jazuli memastikan identitas pesantren tetap melekat dalam perjuangannya. Ia mengaku telah mengantongi restu dari sejumlah kiai sepuh untuk memimpin Perindo Jatim, dengan amanah agar segera melakukan konsolidasi dan menghadirkan program nyata bagi rakyat.
Menutup perbincangan, ia menekankan satu harapan sederhana, ingin dikenang sebagai sosok yang bermanfaat bagi mereka yang berada di garis bawah.
“Kalau saya ingin dikenang sebagai pejuang UMKM, maka saya harus benar-benar berbuat untuk pedagang kecil dan masyarakat,” pungkasnya.