NGAWI, klikwartamedia – Memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional 2026, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Ngawi menggelar Konsolidasi Akbar yang berlangsung meriah di Alun-alun Ngawi, Minggu (3/5/2026).
Tidak sekadar seremonial, konsolidasi ini menjadi ruang penguatan ideologi dan solidifikasi barisan. Puluhan kader se-Ngawi, mulai dari Pengurus Cabang, Komisariat, hingga Rayon, larut dalam satu tekad membara. Dalam mimbar pergerakan yang didirikan di jantung kota, suara rakyat disuarakan tanpa kompromi.
Poin-Poin Perjuangan PMII Ngawi:
1. Cabut Omnibus Law Cipta Kerja dan wujudkan UU Ketenagakerjaan yang pro-buruh.
2. Hapus sistem kontrak, outsourcing, dan kemitraan yang menghilangkan kepastian hidup.
3. Hentikan PHK massal dan wujudkan jaminan sosial universal tanpa diskriminasi.
4. Tolak upah murah, perjuangkan sistem upah layak nasional berbasis kebutuhan hidup layak.
5. Prioritaskan tenaga kerja lokal, tolak Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal.
6. Wujudkan pendidikan gratis dan merata, dari guru honorer hingga fasilitas di daerah 3T.
7. Tolak anggaran pendidikan sebagai alat politik pragmatis.
8. Kawal RUU Sisdiknas, dorong reformasi sistem pendidikan nasional.
9. Hentikan kriminalisasi, intimidasi, dan kekerasan terhadap aktivis dan gerakan rakyat.
10. Tolak militerisme dalam ruang sipil. Kembalikan militer ke barak, tegakkan supremasi sipil dalam demokrasi.
"Kami tidak akan diam selama guru honorer masih kelaparan, selama buruh dipecat sepihak, dan selama aparatus masih berani mengkriminalisasi suara rakyat," lanjut orator tersebut.
Berbeda dengan aksi pada umumnya, Konsolidasi Akbar ini berlangsung tanpa pengawalan aparat kepolisian. Meski demikian, puluhan massa bergerak dengan disiplin dan tertib. Alun-alun Ngawi berubah menjadi lautan semangat perjuangan yang terkendali. Suara yel-yel dan shalawat pergerakan menggema, diiringi sesi orasi kader yang membahas isu-isu ketimpangan struktural.
Aksi ditutup dengan doa bersama yang khusyuk, menguatkan tekad untuk terus mengawal perubahan. Setelah itu, massa membubarkan diri dengan damai, kembali ke rakyat untuk meneruskan perjuangan.
"Konsolidasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa hadir untuk buruh, hadir untuk pendidikan, dan tidak akan pernah tunduk pada rezim yang zalim. Omnibus Law harus tumbang! Militarisme harus enyah dari kehidupan sipil!", Ketua cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Ngawi.