Klik Warta Media

NGAWI – Pemerintah Desa Kandangan, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi menunjukkan komitmen yang kuat dalam meningkatkan derajat kesehatan warganya. Pada hari Jumat (23/10) , Pemdes Kandangan secara resmi menggelar kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Tuberkulosis (TBC). Langkah preventif ini diambil sebagai respon nyata terhadap target nasional eliminasi TBC, sekaligus manifestasi dari pemanfaatan instrumen anggaran publik untuk kesejahteraan masyarakat akar rumput. 

 

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini dihadiri oleh sedikitnya 50 peserta. Komposisi peserta sengaja dirancang secara inklusif, melibatkan berbagai elemen strategis desa mulai dari kader kesehatan, penggerak PKK, tokoh masyarakat, hingga perwakilan perempuan. Keterlibatan aktif unsur-unsur ini dinilai krusial karena mereka merupakan ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan warga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu mempercepat penyebaran informasi kesehatan. 

 

Ada hal yang fundamental dalam pelaksanaan sosialisasi kali ini. Kegiatan ini secara penuh bersumber dari anggaran Dana Desa. Kebijakan ini merupakan implementasi langsung dari arah kebijakan pembangunan desa, di mana pemberantasan penyakit menular telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas penggunaan Dana Desa pada Tahun Anggaran 2026. 

 

Langkah Pemdes Kandangan ini sejalan dengan regulasi supradesa yang mengamanatkan bahwa pemanfaatan dana desa tidak boleh melulu bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan atau jembatan, melainkan harus seimbang dengan investasi pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan ketahanan kesehatan masyarakat. Intervensi anggaran pada sektor kesehatan ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan desa terhadap ancaman penyakit menular yang selama ini menjadi beban sosial dan ekonomi bagi produktivitas warga. 

 

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Kandangan, Pariyanta. Dalam pemaparannya, Pariyanta menekankan bahwa kesehatan adalah fondasi utama dari seluruh proses pembangunan di desa. Ia menyatakan bahwa alokasi anggaran untuk penanggulangan TBC ini merupakan investasi jangka panjang agar warga Desa Kandangan terbebas dari rantai penularan penyakit yang menyerang saluran pernapasan tersebut. 

 

Pariyanta juga mengajak seluruh peserta yang hadir untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif, melainkan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. " Kami mewakili pemerintah Desa Kandangan menekankan pentingnya menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC di tengah masyarakat, karena stigma tersebut seringkali membuat orang takut memeriksakan diri dan justru memperluas penyebaran penyakit secara sembunyi-sembunyi," katanya.

 

Untuk memberikan pemahaman medis yang akurat, pihak pemdes menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Wahyu, yang merupakan tenaga kesehatan dari Puskesmas Ngawi Purba. Dalam sesi materinya, Wahyu mengupas tuntas mengenai mitos dan fakta seputar TBC, gejala-gejala klinis yang harus diwaspadai, serta metode penularannya. Dia menjelaskan secara mendalam bahwa TBC bukanlah penyakit kutukan atau guna-guna, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. "Gejala utama seperti batuk terus-menerus selama lebih dari dua minggu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas, serta lemas, harus segera direspon dengan pemeriksaan laboratorium," jelasnya.

 

Menurut Wahyu, sinergi anggaran desa dengan pendampingan medis dari Puskesmas akan mempercepat penemuan kasus secara dini. "Logika medisnya sederhana, semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pengobatan diberikan secara gratis hingga tuntas selama enam bulan, sehingga potensi penularan di lingkungan keluarga maupun tetangga dapat ditekan hingga titik nol," tegasnya. 

 

Selain membahas aspek pengobatan, sosialisasi ini juga membedah pentingnya faktor lingkungan dalam memicu penyebaran bakteri TBC. Peserta diajak untuk mengevaluasi kondisi sanitasi rumah tangga masing-masing, seperti memastikan kecukupan ventilasi udara dan masuknya sinar matahari langsung ke dalam rumah, mengingat bakteri TBC sangat rentan mati jika terkena paparan sinar ultraviolet. 

 

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Banyak peserta, terutama para kader kesehatan desa, memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi mengenai strategi pelacakan kontak erat di tingkat RT. Melalui forum ini, terbentuk pemahaman kolektif bahwa urusan TBC bukan hanya tugas sektor kesehatan atau puskesmas semata, melainkan kerja semesta yang membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah desa, anggaran yang berpihak, serta kesadaran mandiri dari seluruh lapisan warga Desa Kandangan. (Adv/Ags)

Bagikan artikel ini

Agus Gondrong
18 tayangan

Berita Terkait

Baca artikel-artikel lainnya yang mungkin Anda minati